Tuesday, February 26, 2008

Menjadi Alien di Game Center

Kalau ingin menjadi pengarang, pergilah ke tempat yang jauh, atau merantaulah ke negeri orang. Lalu tulislah pengalaman-pengalaman yang didapat. (W. Somerset Maugham)

Itulah sepenggalah kata-kata mutiara yang aku ingat benar saat ini. Kata-kata yang menjadi pemicu untuk segera menuliskan kisah unik ini. Kisah yang berawal dari tugas mata kuliah cybermedia yang mengharuskan untuk melakukan riset kecil-kecilan ke komunitas game center.

Berhubung waktu siangku yang cukup terbatas, maka aku putuskan untuk melakukan riset ini pada malam hari. Lagipula malam hari ini menurutku sangatlah eksotik dan misterius, karena menyimpan berbagai rahasia yang disembunyikan oleh siang, sepakat?

Oke, kenapa kata-kata alien di atas jadi landasan menulis kali ini. Tidak lain tidak bukan karena game center memang dunia yang asing bagiku, seumur-umur rasanya baru sekali ini menyambangi pusat game center, apalagi di game center kota sebesar Yogyakarta. Game center yang sedang beruntung aku kunjungi adalah Roemah Mirota di daerah Kotabaru, tepatnya di utara SMA 3 Yogyakarta. Maka, sangat wajar kalau di sini aku banyak mengalami kebingungan. Mulai dari game yang asing buatku, hingga cara penggunaan yang unik (karena menggunakan user name dan password yang diacak oleh sistem komputer).

Malam itu aku pergi bersama sahabatku, Adrian. Kami berdua punya misi yang sama: mengerjakan tugas kuliah dan tentunya juga menjajal pengalaman baru. Walau sama-sama mengerjakan tugas kuliah, fokus riset kami agak berbeda. Aku lebih cenderung ingin membuktikan bahwa game center adalah surga untuk wasting time, sedang Adrian lebih kepada membuktikan asumsinya bahwa ada game center cenderung membentuk individu-individu yang bersifat alien (mengasingkan diri terhadap lingkungan sekitarnya).

Ternyata, dari informasi yang kami dapatkan game center memang tempat yang unik. Game center ini “bersenjatakan” lebih dari 130 PC. Dengan jumlah seperti itu, tidak mengherankan jika rata-rata pengguna tiap harinya pun mencapai lebih dari 200 orang.

Para penggunanya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu member dan non-member, perbedaan keduanya terletak pada harga dan fasilitas yang ditawarkan dengan kecenderungan member lebih istimewa tentunya. Dari pemandangan yang saya lihat member keseluruhan member terdiri dari para laki-laki di atas 20 tahunan dengan waktu bermain rata-rata minimal 5 jam. Sedangkan, umur pengguna non-member umur cukup bervariasi, mulai dari anak SD hingga bapak-bapak dengan rata-rata bermain sekitar 2 jam. Tidak hanya laki-laki, di area non-member juga sempet aku temui sekitar 3 pengguna perempuan (unik juga ya?).

Menurut Mas Ferdy, Operator Roemah Mirota, banyak alasan melatarbelakangi kunjungan para pengguna game center ini. Alasannya bermacam-macam, namun secara mayoritas kecenderungan ke arah pemuas hobi semata dan tentunya menghabiskan waktu luang. Dari kedua alasan tersebut, tidak mengherankan faktor kecanduan menjadi titik kelanjutannya. Maka dari itu, sempat terjadi kasus seorang pengguna yang tidak beranjak dari game center itu selama lebih dari 1 bulan (ini gila atau apa namanya ya?). Untuk kasus ini, sepertinya asumsi kut tentang fenomena wasting time bisa tidak terbukti, karena ini sudah kelewatan waktu yang dibuang. Mungkin yang dapat aku lakukan hanya geleng-geleng kepala seraya beristighfar, semoga orang ini dapat hidayah agar tidak lagi berbuat sedzolim itu.

Capek juga petualangan malam ini, maka saat jam menunjukkan pukul 22.30 WIB aku memutuskan untuk menyudahinya. Setidaknya malam ini ada pengalaman berharga yang dapat aku ambil. Dengan langkah gontai karena capek aku tinggalkan game center itu, seraya tetap menyimpulkan senyum tanda kegembiraan, Alhamdulillah…

(Alien yang dimaksud di atas adalah karena aku merasa jadi orang asing di komunitas game center)

No comments: