Monday, February 25, 2008

Kalau Orang Terkenal Punya Blog

“Blog ini baru dibuat beberapa hari, eh komentarnya udah banyak banget!”

Maia Estianty, Artis

Itulah sepenggal testimonial dari seorang Maia Estianty pentolan Duo Maia (dulu Duo Ratu) tentang blog pribadinya yang baru beberapa hari dipublish. Blog yang beralamat di maiaestianty.blogdetik.com itu memang masih baru, hal ini terlihat dari koleksi postingan yang baru beberapa buah. Namun, tingkat ke-baru-an blog ini tidak ada hubungannya dengan realita akan respon para blogger yang membludak, respon ini tercermin lewat ratusan komentar tiap postingnya. Jumlah komentar yang bahkan jauh melebihi seorang blogger professional sekalipun. Saya pun sampai terkaget-kaget dengan jumlah komentar yang dapat dikumpulkan dalam waktu hanya beberapa hari, luar biasa…. ck ck ck ck.

Sebenarnya apa sih yang membuat blog milik Maia, atau secara umum blog orang terkenal (seperti Dian Sastro, Moammar Emka, dll) memiliki magnet amat kuat di depan monitor para blogger lainnya? Padahal, menurut saya kemampuan menulis mereka pun tidak jauh berbeda para blogger lainnya. Di sini ada beberapa asumsi yang dapat saya tarik. Pertama, bagaimanapun juga daya tarik mereka sebagai publik figur di masyarakat menjadi kelebihan tersendiri. Jadi, sebenarnya tanpa adanya blog pribadi pun berita mereka akan terus dinanti-nanti. Hal ini terbukti dari masih laris-manisnya tayangan-tayangan busuk semacam infotainment (sekalipun di berbagai kalangan tayangan seperti ini dihujat besar-besaran). Pertanyaannya sekarang siapa sih yang tidak mau mendengarin informasi terbaru dari Maia? Saya…..!

Kedua, sekalipun di berbagai infotaiment dan media massa berbagai informasi tentang sang publik figur ini telah merajalela. Pemberitaan tersebut akan berbeda bila sang publik figur itu yang menceritakannya sendiri. Logisnya, proses internalisasi perasaan (empati) antara wartawan penulis informasi dibandingkan dengan sang publik figur akan jauh berbeda. Saat publik figur saat menulis sendiri pengalamannya akan secara otomatis memasukkan perasaan yang dia alami sendiri (dengan catatan dia pun pandai menggunakan bahasa tulis, kalaupun tidak bagaimana juga proses empati terhadap teks yang dia tulis telah terjadi).

Fiuh, apapun itu saya memiliki beberapa kesimpulan bahwa hubungan antara blog dan ketenaran pemiliknya berbanding lurus. Seorang yang di dunia nyata populer (menjadi publik figur) akan mendapatkan kemudahan dalam dunia blog. Maksudnya, tanpa harus promosi gede-gedean atau bahkan punya tulisan yang “nendang” akan secara otomatis dikunjungi ratusan bahkan ribuan blogger lainnya… ? hehehe, betul tidak?

Oh, Ya Allah… andaikan saya orang yang terkenal… atau minimal sering punya kasus kontroversial agar terkenal… apakah blog ini juga akan terkenal? Ha7x (just kidding, seharusnya saya dan bahkan kita bersyukur dengan apapun keadaan kita saat ini. Alhamdulillah…)

3 comments:

qolbi said...

Komentar di posting blog kita mungkin penting. Setidaknya itu tanda tulisan kita dibaca dan diperhatikan, walau sekarang sudah ada mybloglog sebagai tanda tulisan kita ada yang baca. Tapi semua orang tahu, komentar itu bukan segalanya. Tulisan bagus yang mencerahkan itulah segalanya. Dan karena itu, fokus utama hendaknya bukan bagaimana menciptakan posting yang kontroversial walau terkesan murahan hanya demi dapat komentar banyak, tapi bagaimana konsentrasi kita dalam membuat tulisan yang baik dan berkualitas. Apa tulisan yang baik dan berkualitas?

Pertama-tama, sebagaimana di berbagai bidang, blogger juga dapat dibagi dalam dua kategori. Blogger pakar dan non-pakar; seperti halnya ada blog pakar dan non-pakar.
Blog / Blogger Pakar
Blog pakar adalah blog yang berisi artikel tematik khusus sesuai dengan bidang keahlian penulisnya. Blog ekonomi ditulis oleh pakar ekonomi; blog politik biasanya ditulis pakar / pengamat politik.
Blog / Blogger Non-Pakar
Blog / Blogger Non-Pakar adalah blog personal yang isinya gado-gado. Penulisnya (sang blogger) bisa saja seorang pakar, pengamat, akademisi, penulis atau orang biasa, yang jelas isinya tidak mencerminkan kepakaran ilmu yang digelutinya. Blog non-pakar ini berisi apa saja yang muncul di pikiran yang menurut hemat penulisnya pantas untuk dibagi. Mayoritas blog dari blogger Indonesia adalah blog nonpakar yang ditulis oleh blogger nonpakar juga, saya adalah salah satu kelompok terakhir ini (blog & blogger non-pakar); dan mungkin Anda juga.
Artikel (content) yang berkualitas
Kedua tipe blog di atas memiliki standar tersendiri dalam soal mutu artikel. Artikel yang bermutu bagi blog pakar tentunya yang sesuai dengan prinsip minimal akademis di samping isinya mencerahkan.
Blog non-pakar tentu saja memiliki standar nilai yang berbeda. Selagi isinya unik, baru dan mencerahkan dan bukan copy/paste, saya menilai artikel yang ditulis sudah memenuhi syarat untuk dianggap bermutu.
Artikel berkualitas dahulu, komentar belakangan
Blog pakar hampir bisa dipastikan isinya berkualitas. Mereka serius dalam menganalisa. Komentar di blog mereka mungkin tidak banyak, khususnya di Indonesia, tapi pembaca yang datang selalu “pulang” dari blog mereka dengan ilmu baru dan wawasan baru. Ini yang penting dan esensial.
Begitu juga, blog non-pakar yang berkualitas. Mungkin saja tak banyak mendapat komentar, tapi setiap pembaca / visitor yang datang selalu mendapat hal baru dan dari situ mereka selalu menunggu tulisan-tulisan baru yang lain dari blog yang sama. Kredibilitas sang blogger pun tercipta dan tertanam di hati pembacanya.
Artikel atau posting yang baik di blog non-pakar (personal) tak harus berisi ulasan panjang dan penuh kutipan. Ia bisa berupa tulisan pendek buah perenungan dirinya saat berkontemplasi; atau pelajaran yang berhasil didapatnya saat ia melihat sesuatu atau mengalami suatu kejadian. Pengalaman pribadi itu unik, dan karena keunikan itu maka ketika dibagi dengan pembaca akan berpotensi mencerahkan.
Saya buat tulisan ini berdasar pada keprihatinan saya setelah membaca beberapa artikel di sejumlah blog Indonesia yang terkesan mendorong para blogger untuk mengagung-agungkan komentar dan trafik tinggi. Dapat komentar banyak itu baik, dapat traffic tinggi juga patut disyukuri tapi kalau demi kedua faktor itu kita mengorbankan kualitas tulisan, maka apa bedanya kita dengan koruptor, maling dan pelacur yang mengagung-agungkan kekuasaan dan uang dengan jalan apapun, bukan nilai luhur dan harga diri?
Saya juga melihat sebagian artikel yang betul-betul tidak bermutu hanya demi mendapat traffic tinggi dengan memanipulasi kata kunci yang banyak dicari orang di google.com. Ini salah satu sebab utama kalau kita menganggap komentar banyak (supaya jadi blog seleb) dan traffic tinggi sebagai standar sukses sebuah blog dan blogger.
Sekali lagi, komentar banyak dan traffic tinggi bukan segalanya.
A lot of comments and high traffic is not everything. Good quality content is.

qolbi said...

sumber :
http://afatih.wordpress.com/2008/01/02/jangan-terobsesi-komentar-blog-pakar-dan-non-pakar/

asyiknya_dunia _kita said...

SBY dua kali di bohongi tim kepresidenannya. Memang pura2x Bodoh?? Ato pura2x di Bodohi?? pengen taw beritanya,, kunjungi blog q http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/