Wednesday, February 20, 2008

Setelah Nonton Ayat-ayat Cinta…

Sejak muncul iklan akan dirilis pertengahan Desember lalu, semakin lama kabar film ayat-ayat cinta semakin tidak jelas kapan akan dirilis di 21. Padahal kita tahu sendiri menunggu memang waktu yang paling membosankan kawan…

Oleh karena itu, saat kemarin seorang kawan datang membawa kopian film ini (yang tentu bajakan), sejenak hatiku merasakan kelegaan setelah lama penantian. Walaupun bajakan, apa boleh buat berhubung terlalu lama ditunda-tunda. Maka, mohon maaf jangan salahkan kalau sekarang kami sangat kebelet untuk menonton dan untuk sementara ini film bajakanlah jawabannya. :p

Singkat cerita, film yang diangkat dari novel lokal terlaris se-Asia Tenggara (konon) ini bercerita tentang seorang mahasiswa S2 Indonesia di Mesir bernama Fakhri. Sekilas, tidak terlalu tampak perbedaan jauh dengan apa yang diceritakan dalam novel tersebut. Namun, memang secara subyektif aku menilai kisahnya terlalu cinta-sentris dan belum menyentuh kisah-kisah essensial seperti bagaimana kerasnya perjuangan hidup Fakhri hanya tuk sekedar bertahan hidup di sana.

Apapun itu, film ini akhirnya menuntaskan dahagaku akan visualisasi Kairo, Al Azhar, suasana flat mahasiswa, suasana menaiki angkutan umum, dan tokoh-tokoh imajinasi Kang Abik yang sebelumnya hanya aku bayangkan sosok-sosoknya dari novel. Sangat senang kawan…

Tapi, euforia ini berjalan hanya sebentar. Sore kemarin, aku mendapatkan artikel yang diambil dari blog milik Mas Hanung (hanungbramantyo.multiply.com). Artikel itu menceritakan bagaimana perjuangan keras dan “berdarah-darah” dari Mas Hanung beserta para kru-nya untuk mewujudkan film ini.

Menurut Mas Hanung, perjuangan memproduksi film ini tidaklah semudah saat dia mensutradarai film-filmnya yang lain (Jomblo, Catatan Akhir Sekolah, dll). Halangan tersebut sangat beragam dan berat mulai dari begitu cekaknya pendanaan, besarnya sikap kontra dan sinis dari berbagai pihak, hingga berbagai halangan teknis lainnya yang Subhanallah menunjukkan betapa perjuangan dakwah lewat media begitu berat untuk dilakukan.

Hal inilah yang menjadi titik concern-ku betapa memang dakwah bukanlah hal yang ringan, apalagi dakwah lewat media yang belum familiar digunakan, film misalnya. Di sini Mas Hanung menunjukkan bagaimana pertarungan idealisme untuk berdakwah lewat film ditarungkan dengan realita dunia perfilman yang masih saja pesimis dengan isu-isu agama. Mungkin dalam pandangan praktisi perfilman awam tema-tema agama masih mustahil untuk dijual ke khalayak.

Yah, memang tidak dapat dipungkiri lagi parameter keberhasilan di industri perfilman masih berkutat melulu pada penjualan, belum ada yang mencoba berpikir bagaimana film dapat mendidik khalayak untuk berubah sikap ke arah yang lebih positif. Film seperti itu biasanya akan sulit penjualannya, karena berat lah, ribet lah, dan berbagai alasan klise lain. Akhirnya pun film yang membanjiri khalayak hanya film gitu-gitu saja, tidak jauh dari pacaran, horor, atau berbagai cerita absurd lainnya. Bahkan kata seorang sahabat yang maniak film, “Menonton film Indonesia seakan-akan membuat perut mules dan pengen ke belakang…”. Terlalu sarkatis memang, tapi kalau kita renungkan bersama kata-kata tersebut ada benarnya.

Ya sudah lah kalau memang itu realitanya. Tapi, satu hal saya salut dengan sutradara-sutradara yang masih mencoba idealis. Mereka yang mau mencoba menentang arus, mencoba menawarkan tayangan film berbeda yang mengarah pada pendidikan bukan pembodohan. Entah itu, Bang Deddy Mizwar, Mas Hanung, dan semoga masih ada sutradara-sutradara lainnya yang mau mengekor. Amien….

Oh ya, untuk Mas Hanung, saya dan teman-teman mohon maaf bila menonton film anda yang bajakan. Andai kami tahu bagaimana anda sampai jungkir-balik dalam memperjuangkan film ini kami tidak akan pernah berbuat senista ini. Insya Allah, walaupun sudah menonton kami akan tetap mendatangi bioskop untuk menonton hasil karya anda. Sekali lagi Salut! Terus Berkarya, Mas!

1 comment:

qolbi_muth said...

oh....filmnya begitu,y???
btw jd inget pesanmu : "kalo aq menyarankan untuk tdk mengkopi file (bajakan dlm bntuk .avi). mending nonton yg legal dibioskop.maklum,film islami kan jarang.jadi alangkah baik kalo kita mendukungnya."

kalo boleh nanya, dlm teori ilmu komunikasi, syarat2 sebuah film bisa disebut islami, itu kayak apa, y mas??