Wednesday, December 19, 2007

Belajar Tidak Perduli Umur


Kemarin (hari selasa 18/12) aku melakukan perjalanan dari Jogja ke Magelang (seperti biasa dink, perjalanan pulang). Sebenarnya, ini bukan jadwalku pulang, tapi berhubung ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan di rumah, sehingga pulang ke rumah kemudian jadi mendesak.

Berhubung dari Jogjanya jam 5 sore (habis kuliah), jadi aku harus berhenti di tengah jalan utk solat maghrib. Sebenarnya ga di tengah jalan sih, karena udah masuk daerah Magelang (tepatnya di daerah pasar gotong royong). Di sana aku berhenti sejenak di sebuah masjid.

Waktu udah menunjukkan pukul 6 sore, anehnya masjid masih melompong? Emang belum adzan maghrib mungkin. Aku pun masuk masjid tanpa lupa berwuddhu dahulu J. Subhanallah, begitu masuk utk niat shalat sunnah aku menemukan sebuah pemandangan yang cukup inspiratif: di pojok masjid ada seorang kakek2 yang sedang membaca Al Qur’an sendirian. Yang menjadi masalah bukan kakek2nya, tapi dia ternyata belum lancar membaca, artinya dia sedang belajar membaca. Aku menjadi terharu waktu dia berulang-ulang kali salah tapi tetap terus bersemangat utk melanjutkan tadarusnya. Salut! Entah, mungkin jika aku yang jadi dia pada umur setua itu aku “mesti malu” utk memulai pembelajaran tsb. Lebih salutnya, ternyata dia juga maju menjadi muadzin, penampilannya menurutku cukup baik. Hebat kek!

Mungkin, aku terlalu underestimate utk mengatakan kakek itu sedang belajar membaca Al Qur’an. Tapi, kalo dilogika tidak mungkin juga ada kakek yang sedang belajar membaca Al Qur’an kan? Paling tidak jika dia rutin membaca tentu di umur segitu dia sudah lancar. Aku melihat membaca Al Qur’an tidak beda dengan saat awal kita belajar membaca huruf latin: butuh keuletan utk terus berlatih secara rutin hingga akhirnya lancar. Intinya apa? Tidak ada kata mustahil utk tidak bisa lancar membaca selama dirutinkan. Iya ga? (ada yg protes??)

Aku melihat banyak dari kita yang merasa pintar dari bertambahnya umur. Padahal tidak otomatis kan? Kepintaran kan ga cuma aspek dalamnya pengalaman, tapi lebih luas dengan aspek2 ilmu, wawasan, jaringan pertemanan, dsb. Jadi, tidak otomatis jika yang lebih muda lebih bodoh dan hanya menjadi pendengar saja. Mungkin seperti sebuah iklan “ Belum Tua, Belum Boleh Bicara” hehe… mari kita menghormati orang karena ilmunya, bukan tuanya…. Sepakat?

Bertambahnya umur tidak berarti pengurangan intensitas belajar, malah sebaliknya kita harus terus menambah wawasan keilmuan yang kita miliki. Agar apa? ilmu yang luas ini dapat dimanfaatkan oleh masy yang luas juga, beda dg ilmu yang sempit: siapa yang mau gunakan? Bukankan ada sabda nabi : “ Sebaik2 manusia adl manusia yg paling bermanfaat”. Nah, pertanyaannya: sampai kapan kita tetap “tidak bermanfaat” ? apakah sampai ajal menjelang kita akan terus-menerus “tidak bermanfaat”?

1 comment:

spirit said...

Wahai kau pencari ilmu
Kusampaikan bagimu pesan dari Rumi:
"Jika ilmu sebatas kulit, dia jadi ular
Jika ilmu meresapgampaike hati,dia jadi sahabat"
(Sir.Muhammad Iqbal)