Monday, November 12, 2007

Jurnalisme Cyber-Islami,Harapan dan Tantangan Masa Depan



“Saya lebih takut dengan empat surat kabar

daripada seratus serdadu dengan senjata terhunus” (Napoleon Bonaparte)

Bahkan seorang Napoleon yang di zamannnya yang mampu menguasai hampir seantero Eropa takut dengan kekuatan surat kabar. Dapat dikatakan surat kabar menyimpan energi terpendam yang dapat menebas siapa saja yang menghalanginya.

Mungkin surat kabar masih merupakan definisi sempit yang menghalangi kita untuk berpikir secara global. Maka dari itu, kata jurnalistik mungkin akan lebih mempermudah kita menjelajahi pemikiran Napoleon tentang kehebatan jurnalistik. Sehingga dari pemikiran tadi dapat kita ambil ’ibroh’ untuk diimplementasikan ke dalam perjuangan dakwah kaum muslimin.

Istilah journalistik berasal dari bahasa Belanda journalistiek. Seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris journalism yang bersumber dari pada perkataan journal yang merupakan terjemahan dari bahasa latin diurna yang berarti catatan harian.

Definisi jurnalistik dari berbagai literatur memiliki variasi yang cukup banyak. Namun, dari sana dapat ditarik benang merah bahwa jurnalistik adalah pengelolaan suatu laporan harian yang menarik minat masyarakat mulai dari peliputannya hingga penyebarannya. Tidak harus fakta yang dibahas, karena opini dari seseorang yang menarik pun bisa dikategorikan sebagai bahan dasar jurnalistik.

Dalam perkembangannya jurnalistik cenderung mengarah pada dunia persurat kabaran. Definisi ini tidaklah salah, namun masih merupakan definisi yang sempit. Karena, definisi lebih luas menyiratkan radio, televisi, dan bahkan internet juga merupakan produk dari jurnalistik (Uchjana, 2004:151),.

Pada awalnya, jurnalistik hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat informatif saja. Hal ini dibuktikan dengan munculnya Acta Diurna sebagai produk jurnalistik pertama di zaman Kaisar Julius Caesar berkuasa di Romawi. Selanjutnya dalam perjalanan waktu surat kabar banyak digunakan oleh penguasa untuk melakukan kontrol sosial.

Revolusi teknologi yang begitu cepat mulai dari penemuan mesin cetak oleh Guttenberg (yang sebenarnya digunakan untuk mencetak Bibel) hingga penemuan Internet oleh DARPA di Amerika pada perang dunia II sedikit banyak merubah pula konsep dalam jurnalistik. Jurnalistik kini makin cepat dan massif dalam menyuarakan isi kepalanya. Hingga serasa tidak ada batasan waktu dan ruang dalam berkomunikasi, lihat bagaimana sebuah berita di belahan bumi lain dengan begitu cepatnya sampai ke telinga kita. Di situlah teknologi benar-benar memainkan peran.

Cyber-Islam dan Globalisasi

Di tengah globalisasi yang deras ini umat Islam terus dituntut untuk berkembang mengikuti zaman. Berdiam diri berarti siap ditindas oleh lawan bahkan kawan. Begitu pula dengan tantangan dakwah yang sejalan dengan tren globalisasi menunjukkan kecenderungan untuk terus meminta “kreasi” terbaru dari para kader dakwahnya. Maka dari itu, dunia cyber selaku dunia baru dalam realita sosial masyarakat menempati tempat yang strategis untuk digarap lebih lanjut.

Dakwah dengan lisan dan dakwah yang aplikatif perlu juga dibarengi dengan dakwah lewat tulisan. Karena sejarah telah membuktikan bagaimana dakwah dengan tulisan lebih memiliki efek yang massif dan cepat. Bahkan, penciptaan mesin cetak pertama oleh Johannes Guttenberg pun didasari oleh alasan dakwah.

Perluasan dakwah via dunia cyber menimbulkan harapan baru sebagai wahana perluasan wilayah dakwah dan intensifikasinya. Karena banyak pertimbangan positif yang bisa dijadikan acuan sebagai media dakwah efektif.

Pertama, dunia cyber tidak mengenal waktu dan tempat. Dakwah bukanlah kegiatan yang dilakukan dalam periode tertentu saja. Informasi bisa didapatkan kapan saja dan dimana saja. Sehingga kegiatan dakwah dapat berjalan selama 24 jam dan menjangkau lingkungan yang sangat global.

Kedua, cakupan yang luas. Dalam dunia cyber hampir tidak ada pembatasan sama sekali. Dakwah tidak lagi untuk kalangan tertentu, melainkan bersifat universal untuk seluruh dunia bahkan tanpa perduli agama, asal-usul dan asal-muasal.

Ketiga, pendistribusian yang cepat. Saat seorang jurnalis menulis hasil laporannya di suatu situs. Tidak akan perlu banyak waktu untuk menunggu hingga dapat dinikmati oleh pembaca, karena saat itu pula artikel tersebut dapat dinikmati.

Keempat, keragaman cara penyampaian. Penampilan produk jurnalistik di dunia cyber sangat beragam. Mulai dari sekedar teks hingga sampai ke bentuk audio-visual (video). Keragaman ini pulalah yang menyebabkan dakwah dunia cyber memiliki kelebihan daripada media-media lainnya.

Alhamdulillah, hingga saat ini situs-situs Islam telah banyak bermunculan di jagad dunia cyber. Pada awalnya kebanyakan situs-situs tersebut dipelopori oleh komunitas-komunitas mahasiswa seperti ISNET (www.isnet.org) di medio 90an. Kini ISNET tak lagi sendirian karena perlahan-perlahan di belakangnya mengikuti MyQuran, MQ, Ukhuwah.or.id, Pesantren.net, Republika dan masih banyak lagi situs-situs Islami yang siap menemani perjalanan dakwah.

Jurnalistik Cyber, Mencari Islam yang Dapat Dipercaya

”Hai orang-orang beriman! Jika datang kepadaMu orang Fasik membawa suatu berita, maka ber-tabayyun-lah, agar tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”.

(QS Al Hujurat : 6)

Seringkali pemberitaan saat ini selalu timpang dan tidak adil. Asal berbau Islam langsung distereotipkan dengan keras, fundamentalis dan radikal. Berkebalikan dengan barat yang selalu dicarikan apologi yang bersifat ”eufemisme”. Awalnya permasalahan ini muncul di surat kabar, namun menyusul kemudian pemberitaan di dunia cyber mengalami permasalahan yang sama.

Pemberitaan yang baik adalah pemberitaan yang berimbang, objektif dan sesuai fakta. Seorang jurnalis harus melepaskan hasrat pribadinya dalam pencarian berita. Tidak boleh seorang jurnalis menggunakan emosi dan nafsunya dalam menulis berita, walaupun itu hal tersebut ditujukan untuk menginternalisasikan diri terhadap keadaan yang terjadi.

Inilah tantangan jurnalistik cyber-islami untuk diperbaiki. Pengkhususan pada materi-materi seputar Islam bukanlah dimaksudkan untuk mengkotakkan diri dari permasalahan-permasalahan lain. Justru karena derasnya arus informasi yang menghantam umat Islam, maka diperlukan sebuah media khusus yang mampu mengcounter kesemua problema itu.

Jurnalistik Cyber Islam, Harapan Kita

”Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum kecuali kalau mereka mau mengubah diri mereka sendiri” (QS Ar Ra’du: 13)

Berbicara tantangan, menurut saya berarti berbicara pula di ranah bagaimana efek yang akan diharapkan timbul dari jurnalistik cyber Islami. Menurut Prof. Onong Uchjana (2004) efek jurnalistik dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: mencapai tujuan jurnalistik Islami, merubah sikap para pembaca dan meningkatnya intelektualitas pembaca. Ketiga hal tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut;

Pertama, mencapai tujuan jurnalistik Islami. Tujuan dari jurnalistik adalah informasi. Karena sifatnya informatif maka informasi yang ada harus dituangkan ke dalam bentuk artikel, opini dan tajuk rencana yang dapat dipahami sedapat mungkin oleh massa.

Tujuan seperti ini dirasakan sangat penting mengingat ketimpangan pemberitaan tentang Islam di dunia barat. Lihat bagaimana Al Jazeera menjadi single fighter melawan ke-superioritas-an CNN, BBC dan media-media barat lainnya.

Kedua, Merubah sikap pembaca. Diharapkan dengan pemberitaan yang akurat dan sesuai fakta yang terjadi di lapangan pembaca akan tergugah untuk menunjukkan sikap yang ideal. Menghadapi penindasan di Palestina kita harus berani melawannya, menghadapi fitnah terorisme terhadap kaum muslim kita harus berani menegakkan kebenaran, menghadapi penghinaan karikatur terhadap Nabi Muhammad di Eropa kita harus mampu menunjukkan sikap menentang dan masih banyak lagi.

Terakhir, meningkatnya Intelektualitas pembaca. Ini merupakan point yang cukup substansial, mengingat dengan meningkatnya intelektualitas pembaca berarti pula meng-kader-isasi pembaca untuk melawan pemberitaan yang memojokkan Islam. Diharapkan dengan kemampuan intelektual yang berkecukupan warga muslim di dunia yang jumlahnya mencapai 26% dari seluruh penduduk dunia tidak akan terus menerus ditipu dengan pemberitaan sampah yang tidak bermutu.

Kesimpulan

Tidak dapat dipungkiri lagi berdasarkan aspek-aspek pertimbangan yang telah disebutkan di atas dunia cyber kini telah menjadi media dakwah yang sangat potensial. Dengan perkembangan teknologi yang terus berkembang, cara dakwah pun harus menagalami perkembangan. Dakwah tidak mungkin terus menerus konservatif mempertahankan cara-cara sederhana, namun harus menancapkan kukunya lewat media yang lebih modern. Dan seperti yang kita ketahui: Dunia Internet adalah Jawaban untuk mengembangkannya.

REFERENSI:

- Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Penerbit Rosda Karya. Bandung: 2004

- Hidayatullah, Syarif dan Zulfikar S. Dharmawan. Islam Virtual. Penerbit Mifta. Jakarta: 2003

- www.id.wikipedia.org

- Connelly, Owen. Microsoft Encarta 200: Napoleon I. Microsoft Corporation.

No comments: