Wednesday, March 12, 2008

Shadaqah Baiknya Kemana Ya?

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An Nisaa’ : 114)

Berbicara shadaqah, menurut saya tidak hanya berkutat mengenai bagaimana perwujudan ketaatan kita sebagai makhluk Allah yang harus selalu saling membantu. Namun, juga berbicara mengenai shadaqah itu harus produktif untuk terus membangun ummat. Oh ya, shadaqah yang saya bahas di sini sudah disempitkan dalam arti shadaqah dengan harta. Jadi, jangan salah sampai salah persepsi ya?

Karena itu pula saya akan menggarisbawahi permasalahan kemana baiknya shadaqah kita. Kemana baiknya? Yang saya maksudkan adalah karena begitu pentingnya shadaqah sehingga kita harus berhati-hati pula dalam mengeluarkannya, agar tidak sembarangan.

Saya mencoba merangkum ada beberapa pola shadaqah. Pertama, ke Masjid tentunya. Shadaqah ini dapat disalurkan lewat “kotak infaq” yang selalu tersedia di masjid manapun di Indonesia. Tapi, dari seorang sahabat takmir masjid, dia mengeluhkan seringkalinya dana dari shadaqah para jama’ah lama mengendap tidak dimanfaatkan. Rugi bukan? Memang sih, penting juga untuk dana cadangan masjid, namun lebih penting lagi untuk segera disalurkan.

Kedua, diberikan kepada pengemis. Ini peluang yang sebenarnya potensial, karena tak jarang kondisi pengemis di jalanan membuat simpati kita tergelitik. Namun, tidakkah kita tahu bahwa ketika pemberian kita malah membuat mereka makin tidak produktif dan hanya akan terus meminta-minta? Tidak jarang (bahkan sering), pengemis di jalanan malah orang yang seharusnya masih sehat dan pantas untuk bekerja dengan normal, tidak perlu lah acara mengemis seperti itu.

Ketiga, menyalurkannya lewat lembaga amil zakat. Lembaga seperti ini sekarang menjamur dimana-mana. Tapi, yang saya rasakan sampai saat ini “tangan-tangan” mereka belum dapat menyentuh para pemberi shadaqah dari kalangan awam yang masih masih kesulitan mengaksesnya. Ingin rasanya bershadaqah lewat lembaga seperti ini, tapi bingung darimana memberikannya. Masak shadaqah hanya 2-3 ribuan harus jauh-jauh ke kantornya?

Keempat, ini opsi yang paling ideal, tapi mungkin seringkali kita lupakan. Apa itu? Menyalurkan shadaqah tidak perlu jauh-jauh, cukup salurkan ke lembaga dakwah yang kita pegang. Saya rasa dimana pun di Indonesia ini lembaga dakwah selalu mengalami permasalahan yang sama: minimnya dana. Oleh karena itu, tidak ada salahnya bilamana setiap lembaga dakwah juga menyediakan kotak amal di setiap markasnya (sekretariatnya). Kotak amal tersebut dapat diedarkan setiap saat ataupun cukup dipajang agar para anggota dapat bershadaqah tanpa dibatasi waktu.

Kenapa saya memilih ini sebagai pola shadaqah paling ideal? Karena saya berangkat dari pemikiran bahwa shadaqah itu harus produktif, tidak boleh hanya mengendap (atau malah kemudian ditabung agar jadi bunga, riba atuh…). Begitu pula nanti penggunaannya akan sangat jelas, karena kita ketahui sendiri kemana akan lari. Dan terakhir, adanya pemikiran bahwa dakwah dan dana berjalan beriringan. Kita boleh berkoar-koar akan akan keikhlasan dalam berdakwah, tapi kita tidak dapat menipu diri bahwa pendanaan akan memudahkan langkah dakwah ini.

Bukan maksud saya untuk menafikan pola shadaqah ke tempat-tempat lain. Namun, saya hanya ingin menggelitik rasa keperdulian kita agar selalu melakukan perbuatan dengan pertimbangan kemanfaatan yang semaksimal mungkin. Mungkin ga beda jauh dengan hukum ekonomi yang popular itu: dengan modal sekecil-kecilnya akan mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Tidak salah kan kalau ini diaplikasikan ke shadaqah?

No comments: