Friday, March 21, 2008

Innalillahi wa Innailahi Roji’un, Selamat Jalan Sahabatku…

“Innalilahi wa innailahi roji’un…

Telah meninggal dunia dengan tenang sahabat kita

Erdiana Mutiaraningtyas… pagi ini jam 3 pagi…”

Begitulah sepenggal sms (dari nomor yang sebenarnya belum dikenal hpku) dari seorang kawanku yang mengabari meninggalnya sahabatku (dan kami).

Muti, begitu panggilan sahabat kami telah pergi meninggalkan kefanaa-an dunia. Akhirnya, firasatku benar, bahwa tubuh rentan itu suatu saat akan kalah menahan gejolak sakit yang lama dia rasakan. Sakit yang itu ditahannny semenjak awal kelas 3 SMA lalu, jadi saat ini hampir 3 tahun sakitnya.

Saat pemakaman (Sabtu, 15 Maret), aku melihat banyak kawan-kawan yang biasanya ceria menghibur selama Muti’ sakit meneteskan air mata. Tidak jarang, ada beberapa kawan yang tidak bisa menahan isak tangis. Biarlah, mungkin hanya doa dan kesedihan menjadi persembahan terakhir kami untukmu.

Momen terakhir bersama yang paling aku ingat Muti’ adalah saat studi banding organisasi pers SMA N 1 Magelang (biasa kami sebut dengan SIBEMA) ke Suara Merdeka, Semarang. Saat itu, di dalam bus aku secara kebetulan duduk berdekatan dengannya. Secara otomatis pun kami berdua terlibat dalam perbincangan. Salah satu statemennya yang aku kagumi adalah keinginannya untuk berjilbab. Wallahu a’lam sampai akhir hayatnya aku tidak begitu paham apakah harapan itu tercapai. Tapi, aku cukup senang saat mengetahui di pertemuan terakhir (saat dia belum sakit berkepanjangan) bahwa kemana-mana dia membawa seperangkat walkman yang berisi kaset murottal. Alhamdulillah…

Hujan deras tiba-tiba jatuh di area pemakaman sekaligus memberi tanda buat kami para takziyah utk beranjak pergi. Tidak mungkin kami berlama-lama di sini. Aku hanya berpikir, kapan aku akan sampai di tempat ini pula? tidur dalam keabadian sepi, sendiri tanpa siapapun menemani. Akankah amal shalihku cukup tuk menemaniku? Wallahu a’alam…

Ya Allah, berilah kemudahan padanya… aku menyaksikan bagaimana kesabaran dia menahan sakit selama bertahun-tahun. Semoga itulah amal yang dapat meringkan hisabnya kelak. Amien…

Andai dirimu sehat, aku yakin gelar Doktor atau bahkan Professor akan dengan mudah kau raih. Aku yakin akan kehebatan intelegensiamu, Semoga ada seorang sahabatmu yang dapat meneruskan kecerdasanmu untuk mengabdikan diri pada umat.

No comments: