Sunday, February 10, 2008

Mempertanyakan Kembali Definisi Aktifis

Aktifis? Apaan tu? Pertanyaan itu, sepertinya itu tidak akan muncul karena istilah aktifis sebenarnya (mungkin) telah lama kita dengar (dan gunakan) sejak masa sekolah dulu. Namun, istilah ini kemudian menjadi istilah baku tersendiri di kalangan mahasiswa, kalangan yang katanya menjadi Agent of Change (menurutku ini hanya konon, berhubungan realita di lapangan yang sering berkata lain).

Dalam pandangan saya, definisi aktifis bermakna seseorang yang aktif dalam berkegiatan. Di sini ada beberapa kemungkinan kalangan mahasiswa yang dapat direpresentasikan dari istilah ini antara lain:

Pertama, aktifis adalah rekan-rekan mahasiswa yang aktif bergerak di organisasi kampus, baik itu pergerakan, BEM maupun Rohis. Kalangan ini merupakan mahasiswa yang tekun bergerak untuk menuntaskan perubahan menuju Indonesia yang baru. Amien (doaku menyertai kalian rekan2…)

Kedua, ada definisi yang mungkin tidak kita sadari. Saya memandang ada juga kemungkinan bahwa seorang aktifis adalah rekan-rekan mahasiswa yang berjuang keras untuk mempertahankan hidup selama berkuliah. Bahkan tidak jarang mereka adalah kalangan yang rela berpuasa “daud” bahkan lebih keras dari itu sekedar untuk mempertahankan hidup di tengah beratnya beban ekonomi yang mereka tanggung selama berkuliah. Pada definisi ini, saya memiliki pengalaman tersendiri. Di mana ada seorang teman saya yang nyata-nyata hidup sebatang kara di yogya. Dia datang dari daerah tanpa membawa modal apa-apa, untuk kemudian bekerja sebagai penjual Koran untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan juga biaya kuliahnya. Sungguh luar biasa pengorbanan temanku yang satu ini… Salut!

Ketiga, ada juga kemungkinan aktifis dari rekan-rekan kita yang memfokuskan diri mengikuti kegiatan yang sifatnya “menyenangkan diri sendiri”. Maaf, saya tidak bermaksud memojokkan siapapun atau organisasi apapun. Tapi, tipe-tipe seperti ini cenderung mengikuti kegiatan yang praktis, contohnya kegiatan olahraga, beladiri,dsb. Bukannya tidak bermakna kegiatan seperti itu, namun untuk jangka pendek manfaat kegiatan tsb hanya dapat dinikmati secara personal. Apapun itu, saya tetap memasukkan tipe ini ke definisi aktifis.

Keempat, terakhir ada juga aktifis yang berupa para rekan-rekan mahasiswa kelas wahid. Mereka belajar dengan tekun, hampir setiap hari terlihat di perpustakaan, membaca buku (baik diktat kuliah maupun suplemen laiinya) sepanjang waktu, dsb. Mereka berjuang keras untuk mendapatkan hasil terbaik dalam studi, hingga kebanyakan dari mereka melupakan kehidupan sosial mereka sendiri.

Kembali pada definisi tersebut, setidaknya saya mau mempertanyakan definisi aktifis yang selama ini kita (kalangan mahasiswa) pahami. Karena realita yang saya lihat di lapangan, definisi aktifis yang kita akui hanya berada pada definisi pertama. Entah kenapa, apa karena memang rekan-rekan tersebut yang paling kelihatan aktif bergerak atau mungkin karena memang hanya mereka saja yang pantas disebut aktifis…

Saya memang bukan aktifis tipe pertama, tapi saya juga meminta keadilan penggunaan definisi tersebut di kalangan mahasiswa. Agar kenapa? Agar (mungkin) kita tidak lagi memandang rekan-rekan yang bergerak di jalur lain dengan sebelah mata. Mereka punya pilihan, begitu pula dengan kita… atau malah sebisa mungkin keempat definisi aktifis di atas dapat kita sinergikan dalam pribadi kita… bisakah?

Yogyakarta, 31 Januari 2008

No comments: